Sejarah Desa
Menurut cerita, tetua desa Long Liku
berasal dari daerah Seputuk. Kemudian terjadi perpindahan penduduk menuju
Kebiran, Hal ini karena pemukiman yang berada di Seputuk terdapat banyak semut
merah yang mulai menggangu masyarakat. Setelah tinggal dan menetap di Kebiran,
terjadi suatu peristiwa yang berkaitan dengan buah Ulin. Salah satu anak dari
pemimpin pada masa itu tertimpa buah Ulin dan meninggal dunia. Setelah
peristiwa itu, kembali terjadi perpindahan penduduk ke hulu sungai. Masyarakat
pada masa itu mencari tempat yang tidak terdapat pohon Ulin agar tidak terjadi
peristiwa serupa sekaligus sebagai bentuk duka atas meninggalnya anak tersebut.
Pada saat itu, masyarakat membawa
serta harta benda mereka menggunakan perahu, seperti tempayan, meja batu, dan lain sebagainya. Singkat cerita, sesampainya di daerah Semamu, rombongan ini
bertemu dengan seorang penduduk Semamu bersuku Abai yang bernama Abong Mago.
Abong menawarkan kepada rombongan untuk membawakan harta benda mereka menggunakan
perahu karena terdapat banyak giram di aliran sungai. Akhirnya, rombongan
tersebut menyetujui dan memilih lewat jalur darat dan bertemu kembali di tempat
yang sudah ditentukan. Sesampainya di Sungai Krayan, rombongan ini bertemu
kembali dengan Abong Mago, namun saat ini Abong mengatakan barang-barang mereka
hanyut karena karam. Hanya tersisa beberapa barang yang dapat diselamatkan.
Akhirnya, perjalanan dilanjutkan menyusuri Sungai Krayan hingga sampai di daerah
Krayan.
Masyarakat terus mencari tempat
yang cocok untuk dijadikan pemukiman. Sehingga terjadi beberapa kali perpindahan
penduduk hingga akhirnya sampai di daerah Long Liku. Masyarakat tinggal dan
menetap di Kuala Sungai Liku atau dalam bahasa Lundayeh disebut Long Liku. Liku
juga dapat diartikan sebagai berbelok-belok atau berliku-liku. Sehingga dapat
diartikan sebagai sungai yang berliku.
Pasca kemerdekaan, Long Liku telah
mengalami dua kali perpindahan penduduk hingga saat ini. Perpindahan penduduk
Long Liku dilakukan secara bergelombang. Gelombang pertama terjadi pada tahun
1970, disusul gelombang berikutnya hingga tahun 1973. Perpindahan dilakukan
dari Long Liku ke Lung Seraban. Kemudian perpindahan juga terjadi pada tahun
1982? Dari lung Seraban ke Hilir. Perpindahan penduduk ini merupakan program
pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan.
Pada saat itu, penduduk Long Liku terpencar ke beberapa wilayah seperti Taras, Tanjung Lapang, Kuala Lapang, Sempayang, Sesua dan wilayah lainnya.
Singkat cerita, sebagian penduduk kemudian berkumpul kembali dengan membeli
tanah di wilayah Tulid Fasan, Lidung Kemenci.
Setelah sekian lama bermukim di
wilayah Lidung Kemenci, pada tahun 2021 desa Long Liku kembali ke hulu.
Pemukiman berada di wilayah Lung Kebaong yang merupakan wilayah sawah dan
perladangan pada masa dulu. Meskipun wilayah desa telah berpindah dari Kecamatan
Mentarang ke Mentarang Hulu, masyarakat dan pemerintahan masih berada di
wilayah Lidung Kemenci hingga saat ini.
Nama pemimpin dan Kepala
Desa
Pra kemerdekaan:
1.
Bu,u
2.
Yudan
Bu’u
3.
Padan
Balang Abai
4.
Yudan
Bu’u
Pasca kemerdekaan:
1.
Bawe
Panud (1945-1973)
2.
Siran
Bu’u (1973-1990)
3.
Kalep
(1990-2005)
4.
Elia
Siran ( 1 periode)
5.
Kalep
(1 periode)
6.
Yehezkel
(1 periode)
7.
Regen
(1 periode)
8.
Triminsa
(1 periode)
9.
Alvianto
(2023-sekarang)
Sumber:
Tinus Siran dan
Kalep Siran
Terima kasih sudah membaca. Tunggu artikel dan berita seru lainnya yang akan segera tayang!